Bromance

It’s like Eminem and Dr. Dre
If I loved you more I might be gay
And when I’m feeling down
You know just what to say
You’re my homey (homey)
Yeah ya know me (know me)
And if you ever need a wingman
I’d let any girl blow me off
Cause you’re more important than the rest
I confess I’m a mess
If I’m not hangin’ with my BFF
You know it’s true
You my male beau (my beau)
Now sing the chorus with me
If you’re feeling the same way too

Bromance
Nothing really gay about it
Not that there’s anything wrong with being gay (gay)
Bro-o-o-omance
Shouldn’t be ashamed or hide it
I love you in the most heterosexual way

Hold me to a promise
That I’ll will be the kind of friend
That in the end
Will always keep you company
Cause when the world gets tough
And times get hard
I will always love you
I’ll be your bodyguard
Cause you’re my bestie (bestie)
And if you test me (test me)
I’ll prove it time and time again
I got your back until the end
A brother from another mother
Never knew how much I loved ya
‘Til I started singing this song (Huh)

Bromance (Bromance)
Nothing really gay about it
Not that there’s anything wrong with being gay (gay)
Bro-o-o-omance (Bromance)
Shouldn’t be ashamed or hide it
I love you in the most heterosexual way

And now that I’ve told you how I feel
I hope you feel the same way too
But if you don’t
This song was just a joke (Ha ha ha)
But if you do
I love you

Bromance (bromance)
Nothing really gay about it (nothing gay)
Not that there’s anything wrong with being gay
Bro-o-o-omance (bromance)
Should’nt be ashamed or hide it
I love you (love you) in the most heterosexual way

I love you bro

Postingan ini ciyus loh.. Karena, belakangan ini gw selalu galau. Setiap buka wordpress, klik New Post, udah banyak pikiran yang mau ditumpahin di tulisan, ternyata ujung-ujungnya gw cuma bengong-bengong lucu di depan komputer.

Sebentar lagi, hitungan beberapa hari. Gw akan resign dari kantor sekarang, menuju kantor yang baru. Cedih, gw harus meninggalkan temen-temen gw yang selama 3,5 tahun ini menemani hari-hari gw yang kelabu. Cedih, saat gw ngeliatin muka-muka tua mereka. Cedih, saat gw tahu mereka selalu ada saat gw kesusahan. Cedih, cedih, dan cedih..

Gw inget saat awal-awal gw di sini, gw dateng dengan tampang blo’on ngelitiatin temen-temen kantor yang udah pada tuir-tuir. Takut gw gak bisa bersosialisasi dengan mereka karena perbedaan umur gw yang cukup jauh. Waktu itu umur gw masih 21 dan harus menghadapi mereka yang berumur 30an-50an. Gw udah kayak perawan di sarang penyamun..

Tapi, kekhawatiran gw ternyata gak beralasan, mereka ternyata welcome banget. Gw udah dianggep anak sendiri, kadang-kadang kalo lagi bokek (sering bahkan.. :P ) mereka selalu nawarin gw makanan, yang tanpa ragu-ragu lagi gw embat. Gw udah dianggap keluarga sendiri.

Ada pak Slamet yang setiap pagi sarapan bareng, tuker-tukeran lauk pauk, walau pun lebih sering dia yang rela lauknya gw embat. Ada Mamad yang ngasih gunting dan pisau waktu gw patah hati, dan sering ngutang (Bitch!..). Mas Sutris dengan obrolan-obrolannya yang berat, sampe punggung gw pegel. Pak Cipto, supervisor gw yang sering ngasih tebak-tebakan “Ayam apa yang bisa ilang? Ayam ajaib” (garingnya..kriuk..). Deni & Yudi yang kalo ke rumah dengan sukarela nyapu dan ngepel, walau pun di bawah ancaman. Yoga, karyawan kemaren sore yang kecentilan dan sering gw godain. Pijetannya enak banget, sayang gak bisa dipanggil ke rumah. Mbak Murtini yang setiap pagi bikinin kopi, dengan logat “khas”nya. Haha..

Gw bakalan inget siapa yang narok seperangkat celana dalam gw di kulkas, yang rela jatah nasi bungkusnya dikasiin gw karena kasian, yang tidurnya ngorok, yang hapenya dual speaker sampe tetangga ngira ada pesta, yang janji mau ngasih singkong rebus walau pun baru terlaksana 3 tahun kemudian, yang pantatnya item tapi pede dipamer-pamerin, yang minta duit buat beli jajan tapi malah duitnya dibawa pulang dan lain-lain kelakuan kalian yang gak waras..

Jangan sms-sms sama telpon gw lagi ya, biarkan hidup gw yang baru jadi tenang dan damai..

I LOVE YOU BRO,.

Si Mamad

Mamad menyandarkan kepalanya di sebuah bantal kumel bau iler, di sebuah kos-kosan yang lebih pantas disebut kandang. Walau pun kepalanya botak licin, sampai lalat pun kepeleset, sesungguhnya mamad juga dikaruniai sebongkah otak di tempurung kepalanya, meski pun denger-denger kata orang besarnya tak lebih dari sebuah kelereng yang sering ia mainkan ketika kecil. Dengan otak itulah ia terjebak dipelukan seorang nenek sihir yang menjelma menjadi seorang putri cantik yang sebentar lagi akan kita obrolkan.

Mamad adalah anak seorang konglomerat bandar jengkol, ayahnya terkenal dengan produk-produk olahan jengkol, bahkan sempat menembus pasar dunia, dengan nama Way Abung Fried jengkol alias WAFJ yang tersebar di berbagai kota besar di seluruh dunia, seperti nganjuk dan Purwokerto. Namun entahlah, semenjak bisnis ini jatuh ke tangan Mamad, manajemen menjadi salah urus dan salah jurusan. Marketing yang seharusnya berada di pasar-pasar strategis, malah nyasar ke diskotik-diskotik malam yang biaya masuknya kalau dikurskan ke kampung, cukup untuk makan 3 hari.

Di diskotik malam itulah Mamad bertemu dengan Wagiyem seorang bidadari cantik yang sengaja turun dari atas plafon demi melihat dompet tebal sang arjuna. Dasar mamad yang bawaan lahirnya gak bisa ngeliat paha dikit, langsung klepek-klepek ketika tahu bahwa paha wagiyem lebih mulus daripada paha Mbok Wagirah, pembantunya di kampung. Semenjak perkenalan dengan wagiyem yang belakangan diketahui bahwa nama lengkapnya yaitu wagiyem et jimail dot com, Mamad pun rajin belanja ke “emol”, jatah uang belanja minyak goreng untuk menggoreng biji jengkol pun, sengaja ia subsidi dengan minyak rambut. Demi membelikan wagiyem busana-busana mahal seperti baju merk Noklia atau celana dalam merk Soni Eriksen. Apa pun ¬†dilakukan demi menyanggupi permintaan dik Wagiyem.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Perekonomian mikro si mamad, akhirnya kolaps juga. Perusahaan jengkol warisan ayahnya pun bangkrut, Konsumen banyak yang mengeluh sakit tenggorokan, Mamad pun menyewa detektif Conan untuk menyelidiki kasus ini. Diketahui penyebabnya karena Mamad mensubtitusi biji jengkol dengan kulit durian. Namun, hasil penyelidikan pun tak mempengaruhi laju terjun bebas kebangkrutan mamad. Dengan sangat menyesal KUA pun memutuskan untuk mempailitkan perusahaan jengkol yang sudah berdiri dari abad ke-2 sebelum masehi itu.

Semenjak bangkrut, Mamad pun jatuh dalam minum-minuman keras, ya..air raksa memang sahabatnya yang setia di kala merana. Wagiyem pun tak pernah lagi menunjukkan paha mulusnya. Belakangan mamad tahu kalu paha mulus itu adalah stoking loreng, seorang bencong berotot bernama Angelina yang memberitahunya.

Mamad patah hati, mamad terluka. Mengapa Tuhan meletakkan penyesalannya di akhir? kenapa tak di awal saja? sehingga ia bisa menukar subsidi biji jengkol dengan sandal jepit, biar semua konsumen itu sengsara. Tapi, nasi telah menjadi bubur, mamad cuma harus menambah sedikit kecap dan garam saja agar penderitaannya sempurna.

Mamad bangun dari lamunan sunyi, lalu mengambil puntung rokok yang ia selipkan di pintu, mengambil korek api, kemudian menyalakan rokok persis seperti di iklan-iklan. Rokok dihirup sedikit, lalu dimatikan. “Lumayan buat sebulan lagi”¬† kata Mamad tersenyum sinis dalam hati..