Perempuan itu seperti puisi di mataku. Wajahnya terlalu puitis, sehingga aku tak perlu lagi menorehkan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya. Aku bertemu dengannya secara sederhana, tak ada tabrakan, tak buku-buku jatuh dan tak ada kedua tangan yang tak sengaja saling menyentuh. Aku hanya menatapnya di seberang jalan, melihatnya dari sisi kejauhan. Aku menggaguminya. Tak ada senyuman, karena memang mata kami tak saling bertemu. Ia terlihat sibuk tengok kiri-kanan menunggu taksi, terlihat lucu. Saat itu, aku tak sempat berkenalan.
Pertemuan berikutnya lebih sederhana, kami berpapasan saat berjalan di trotoar. Tak ada senyuman, karena mata kami (lagi-lagi) tak saling bertemu. Aku hanya sempat mengabadikan wanginya di hidungku, channel no.5. Perempuan itu kemudian berjalan anggun di balik punggungku. Ingin rasanya kutahan dan kukatakan “kamu puitis”, tapi aku terlalu malu untuk melakukannya.
Dan pertemuan kali ini agak istimewa, ia duduk sendirian di bangku taman. Jari-jarinya lincah membolak-balikkan halaman sebuah buku. Di sampingnya ada sebuah apel yang tergigit. Aku tak bisa menahan degupan di jantungku, aku buru-buru berjalan ke hadapannya. Ia kemudian menatapku, tatapan mata kami untuk yang pertama kali. Ia tersenyum.
“Kamu puitis”. Kataku malu, sambil mengerakkan tangan sebagai bahasa isyarat.
Tangan kananya terbuka kemudian menenpel di bibir lalu digerakkan ke depan, yang artinya terima kasih.
“Apakah aku boleh mengenalmu?”
“Boleh,” Tanganya berbicara.
“Namamu siapa?”
“L-I-S-A” Ia menuliskan namanya di telapak tanganku dengan jarinya..
Obrolan kami pun berlanjut, ia ternyata sangat menyenangkan. Ia mengajariku isyarat tangan untuk para Tuna Rungu. Dan sejak saat itu aku tahu, aku tak sendiri lagi..
Lampung, 25 Februari 2012
Yang terfikir setelah membaca ini, dia pasti perempuan yang sangat kuat, nice post ^_^
Kuat karena kesederhanaan nya.